Minggu, 20 Maret 2016

Sahabat Rasullulah yang Dijamin Masuk Surga

Sahabat - Sahabat Rosulullah yang di Jamin Masuk Syurga Diantaranya :


1. Abu Bakar as-sidiq
Image result for gambar khulafaur rasyidin

Nama aslinya adalah abdullah bin abi Quhafah ,
Ayahnya Bernama Usman bin amir bin amr bin ka’b bin sa’d bin taim bin murrah bin ka’b bin lu’ai bin ghaib , Ibunya bernama Ummul Khair salma binti shokhr bin amir bin ka’d bin sa’d bin taim bin murrah .
Usia abu bakar as-sidiq 63 tahun , Dia orang pertama yang masuk islam dan dia manusia terbaik setelah rosulullah . Mengemban kekhalifahan selama 2,5 Tahun . Abu bakar as – sidiq Mempunyai 5 Orang anak yaitu :

  • Abdullah , Di sa’at Rosullullah saw dan abu bakar bersembunyi didalam goa menghindari kejaran kafir Quraisy , ia juga pernah masuk goa itu . Dia terkena anak panah di thalif , Meninggal sa’at ayah nya mengemban kekhalifahan
  • Asma , Istri Zubair bin awwam . hijrah kemadinah sa’at mengandung Abdullah bin Zubair . Ibu Asma adalah Qutailah binti abdul uzza berasala dari bani luay meninggal dalam keadaan kafir .
  • Aisyah Binti as-sidiq , Aisyah adalah ummu Rumman Binti amir bin uaimir bin abdu syams bin attab bin Udzinah bin subai bin duhaman bin al-haris . Masuk islam dan ikut hijrah kemadinah di zaman wafat Rosullulah saw
2.  Umar Bin Khatab

Ummar Bin khatab adlah keturunan dengan Rosullullah saw , Murrah bin ka’b , Umar masuk islam di mekah dan mengikuti seluruh peperangan bersama rosulullah Saw .Ibunya adalah Khantamah binti hasyim , Putra-Putra Umar sbb ;

  • Abu Abdurrahman Abdullah
  • Hafshah
  • Ashim
  • Zaid al-akbar
  • Ruqayyah
  • Abdullah , dan
  • Iyadh bin Umar

3. Usman bin Affan

Nasab keturunanya bertemu dengan rosullullah saw di abdu manaf , yang merupakan kakek ke lima . Usman masuk islam pada awal datangnya islam di mekkah . Mengemban ke khalifahan selama 12 tahun kurang 10 hari . Terbunuh pada 18 Dzuhhijah tahun ke-35 . Sa’at itu ia sedang berpuasa . ia meninggal pada usia 82 tahun .
Image result for gambar khulafaur rasyidin
4. Ali bin Abi Thalib

Dia adalah cucu abdul Muthalib , sepupu Rosululah saw . ia dilahirkan oleh fatimah binti asad bin hasyim bin abdi manaf . Fatimah adalah wanita bani hasyim pertama yang melahirkan dari bani hasyim .
Masuk islam di mekah , lalu hijrah ke madinah dan wafat pada jaman rosululah saw .
Ali bin abi thalib menikah dengan Fatimah Putri rosulullah saw . kemudian lahirlah hasan , husein , dan muhassin dari pernikahan ini . tetapi muhassin wafat terkala masih kecil .

Sabtu, 12 Maret 2016

Sejarah Nabi Muhammad Saw

Nabi muhamad saw di lahirkan di kota mekah padi hari senin tanggal 12 Robiul awal tahun gajah , bersetuju dengan tanggal 20 april 571M .

Ayahnya abdullah bin abdul muthalib telah meninggal lebih dahulu , sebelum beliau lahir.
Ayahnya saudagar yang selalu berulang-ulang pergi berniaga ke negri syam (Syria) pada saat kembalinya berniaga pada suatu masa dalam perjalanan menuju negeri mekkah ia mendapat sakit sehinggamembawa ajalnya dan di makamkan di madinah.

a. Nasab Nabi Muhammad SAW.

Ayah beliau Abdullah bin Abdulmuthalib bin hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin kilab.
Ibu beliau Aminah binti Wahab bin abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab
Nasab Ayah dan ibu beliau bertemu di datuk beliau yang kelima yaitu kilab,masing-masing dari suku Quraisy yang berpengaruh dan berkuasa . beliau lahir dari keluarga yang miskin harta tapi tentang budi kebangsaan.

b. Yang Menyusukan Beliau

Adat istiadat di tanah mekah berlainan sedikit dengan negeri-negeri kita.Anak-anak kecil di tanah arab biasanya di serahkan kepada perempuan-perempuan dusun untuk di susukan di sana karena ingin mandapatkan anak-anak hidup di tengah udara yang bersih di dalam dusun yang indah ,dengan harapan membawa kecerdasan otak dan keluhuran budi pekerti .
Karena kehidupan di desa masih suci dan bersih , nabi muhammad pun tidak terkecuali dari adat istiadat tersebut .Empat tahun lamanya beliau tinggal denga ibu susunya halimah.

c. Masa kanak-kanak

Siti aminah amatlah setianya kepada suaminya ,dan walaupun sudah meninggal setiap tahunya ia pergi ke madinah dengan muhammad untuk menziarahi kuburan suaminya dan berkunjung ke rumah saudaranya bani Ady di madinah .

Waktu pulang ke mekah di tengah jalan tiada jauh dari madinah di tempat yang bernama abwa,wafatlah aminah dengan meninggalkan muhammad seorang diri dalam perjalanan.
Pada waktu itu nabi muhammad baru berumur enam tahun,kemudian anak yatim piatu itu di asuh oleh kakeknya yang bernama abdulmuthalib .dua tahun kemudian kakeknya pun meninggal dunia, umur beliau waktu itu delapan tahun ,maka atas wasiat abdulmuthalib beliau pun di asuh oleh pamanya abu thalib.

Paman muhammad itu seorang yang miskin dan banyak anaknya,karena itu ia senantiasa berulang-ulang pergi berniaga ke negri syam.Pada suatu hari nabi juga ingin turun pergi ke negri syam tetapi karena masih kecil pamanya tidak berani membawanya.

Pada waktu umur dua belas tahun pergilah ia ke negri Syam dengan pamanya abu thalib untuk berniaga.setelah tiba di salah satu dusun kecil,Abu Thalib bertemu dengan salah seorang nasrani yang bernama buhaira,dan pendeta itu berkata kepada Abu Thalib:’’Anak ini nanti akan mempunyai pengaruh yang besar,karena itu bawalah pulang dan jagalah ia dari gangguan orang-orang yahudi’’.

d. Sebelum diangkat menjadi rosul

Nabi muhammad Saw sejak kecil terkenal bersipat lurus dan benar dalam segala pekerjaan beliau tidak pernah meminum arak dan tak pernah berjudi dan belum pernah menyembah berhala.
Selagi kanak-kanak yang meningkat dewasa,nabi muhammad belajar bekerja mencari kehidupan dengan jalan mengembala domba ,memelihara ternak sebagai suatu gambaran betapa pentingnya perternakan itu bagi kehidupan ekonomiumat dan bangsa, sehingga para nabi dahulu pun memelihara domba atau ternak di masa hidupnya.Lagi pula sebagai latihan bagina untuk belajar meminpin umat kelak kemudian hari.

e. Ke Negeri Syam yang ke dua kali nya

Tatkala Muhammad berumur 25 tahun, pergilah ia ke negeri syam yang ke dua kalinya untuk berniaga sendiri dengan membawa modal dari seorang wanita janda yaitu siti Khadijah.perbuatan beliau ini memberi contoh kepada umat betapa pentingnya perdagang bagi kehidupan ekonomi bagi suatu bangsa.Dalam melakukan perdagangan beliau memberikan contoh betapa seharusnya budi pekerti dan budi bahasa. Para pedagang dan penguasa yang menyusun perekonomian dengan praktek segsls etik ekonomi seperti jujur kepada yang memberi modal ,pembeli dan ramah kepada pembeli serta kasih kepada para bawahannya sebagai yang di buktikan prakteknya oleh nabi muhammad dalam perjalanan dan perdagangan beliau ke negeri Syam itu.

f. Perkawinannya Dengan SIti Khadijah

Usaha dagang yang di lakukan muhammad dengan jujur ini menghasilkan laba yang banyak dan meyebabkan adanya pertalian antara muhammad dengan khadijah.kemudian mereka menikah ,pada waktu itu muhammad berumur 25 tahun dan khadijah sudah janda dan berumur 40 tahun . Sebelum menikah dengan muhammad, khadijah suda pernah menikah dengan Abi halah,kemudian suaminya pu meninggal dunia dan mereka mempunyai anak laki –laki bernama Halah.

g. Keputusan Nabi Terhadap Quraisy

Di kala beliau mencapai usia 35 tahun, saat itu quraisy memperbaharui kabah, beliau ikut kerja dan membawa batu bersama-sama mereka setelah pekerjaan selesai mereka akan melrtakan hajar aswad di tempatnya semula, maka terjadilah perselisihan antara mereka tentang siapa yang akan meletakan di tempatnya,kemudian mereka sepakat bahwa perdamaianya ialah orang yang pertama kali masuk ke masjidil haram.Kebetulan muhammad yang pertama kali masuk ke masjid itu, lalu kaum quraisy bergembira dan mereka berkata:
‘’Kami rela kepada orang yang di percayai ini’’.

Maka nabi meletakkan batu itu di atas serban dan beliau minta dari tiap-tiap ketua kaum quraisy supaya masing-masing memegang serban itu,kemudian nabi menyuruh mereka mengangkat batu tadi.Tatkala sampai di tempatnya kemudian nabi sendiri mengambil hajar aswad itu da meletakan di tempatnya.Mereka semuanya merasa rela dan puas dengan keputusan nabi yang sejujurjujurnya itu, kemudian mereka bersatu dan berseru inilah ‘’Al-Amin’’ artinya orang yang di percaya.

Dari contoh tersebut bahwa orang yang di angkat atau terpilih untuk meminpin suatu tugas atau pekerjaan,janganlah memborong segala pekerjaan,tetapi hendaklah ia pandai dan bijaksana membagi tugas dan pekerjaan kepada siapa yang berhak menerima pembagian dan sebagai suatu jalan yang praktis untuk mendidik untuk mendidik para peminpin kemudian hari.

h. Menjadi Rosul

Setelah berumur 40 thn,datanglah kepada beliau malaikat jibril menyatakan keangkatan beliau menjad rosul allah kepada manusia semuanya serta di ajarkanya kepada beliau perihal agama islam.
Pada waktu itu beliau menerima wahyu yang pertama ,Yaitu turunya surat al –alaq , ayat 1-5 (Surat iqra).Penduduk mekah pada waktu itu masih menyembah berhala,kemudian rosullah memulai mengajak mereka menyembah allah dan meninggalkan menyembah berhala.

i. Menyi'arkan Islam
Beliau mula-mula meyiarkan islam secara diam-diam denga rahasia dan waktu itu di tunjukan kerabat saja dan kemudian islam di terima oleh khadijah istri beliau.kemudian menyusul,Ali bin abi thalib,Zaid bin Harisah dan akhirnya jumlah pemeluk agama islam berjumlah 40 orang.
Setelah beliau cukup mempunyai kekuatan,kemudian beliau di perintahkan allah untuk menyiarkan ajaran islam dengan cara terang –terangan sebagai di nyatakan dalam al-quraan yang artinya :

"Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik "

Karena tuhan memerintahkan demikian ,maka beliau datang ke pasar-pasar dan di tempat orang –orang banyak beliau membacakan al-quraan dan mengajak penduduk mekkah untuk memeluk islam.
Berita agama islam mulai terdengar dari mekkah sampai ke madinah terhadap islam kemudian berduyun-duyun mereka memeluk islam.

j. Hijrah Ke Madinah

Karena tantanga dan rintangan dari kaum kafir Quraisy yang bertubi-tubi,maka hijrahlah beliau bersama –sama sahabatnya ke madinah, Beliau berangkat bersama-sama dengan sahabatnya yang setia yaitu abu bakar dengan sembunyi- sembunyi,kemudian sampailah beliau di madinah. Sejak peristiwa hijrah Sayyidina Umar Bin Khatab memuat perhitungan permulaan tahun hijriah,dihitung dari permulaan hijriah.

k. Tiba Di Madinah

Setelah penduduk madinah mendapat berita tentang kedatangan nabi muhammad saw ke madinah,bergembiralah mereka dengan sambutan gembira yang di sertai dengan tempik sorak,di sertai tahmid dantakbir.Kaum wanita dan anak- anak bernyanyi dengan riangnya memuji dan menyanjung kedatangan nabi, serta ikrar dan patuh tarhadap perintah agama.

Kepada penduduk madinah nabi memberikan gelar ‘’Al-Anshar’’ artinya orang-orang yang menolong, sedangkan penduduk mekkah di beri nama ‘’Al- Muhajirin, kemudian antara kaum anshar dan muhajirin di ikatkan tali persaudaraan yang teguh.

l. Mekah TAkluk Dan bangsa Arab Tunduk

Pada tahun ke 8 hijriah nabi bersama-sama sahabat- sahabatnya,dapat merebut kembali kota mekkah dari tangan kafir quraisy.Nabi dan tentara islam yang kuat masuk ke mekah dengan ke menangan, kemudian beliau menuju kabah dan memecah berhala-berhala.Mekah pun takluk dan bangsa arab tunduk.

Pada hari itu sebagian besar penduduk mekkah memeluk agama islam, dan Rosullah memberikan ampunan kepada mereka yang telah bersalah, Kecuali beberapa orang yang keras ingin menentang rosul.

Setelah selesai mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan urusan keamanan dan pemerintahan, beliau menyerahkan kepercaiaanya kepada rakyat lalu beliau kembali lagi untuk sementara waktu ke madinah.

Kemudian pada tahun ke 10 hijriah beliau kembali lagi ke mekkah untuk menunaikan haji wadda (haji pamitan).Di sana beliau berkhutbah menyatakan wajib haji, kemudian islam dan beberapa wasiat yang penting.

m. Beliau Wafat

Setelah beliau selesai menunaikan tugasnya menyiarkan islam, dan islam telah tersebar di kalangan penduduk arab dan sekitarnya maka pada tanggal 12 robiul awal tahun 11 Hijriah, Wafatlah beliau dalam usia 63 tahun dan di makam kan di madinah.
Beliau wafat setelah berjuang menegakan islam dalam masa 23 tahun untuk kebahagiaan hamba allah di dunia dan di akhirat.

AKHLAK NABI MUHAMMAD SAW DAN JASA-JASA BELIAU


  1. Dalam perjalanan hidupnya sejak kecil hingga dewasa dan sampai di angkat menjadi rosul beliau terkenal sangat jujur dan berkepribadian yang tinggi.Karena jujurnya dalam perbuatan dan perkataan maka beliau di beri julukan al- amin, artinya orang yang dapat di percaya .
  2. jasa- jasa beliau Memprsatukan bangsa di bawah panji-panji tauhid , untuk membawa umat menuju keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Sejarah Asal Usul Kota Bengkalis

Asal mula nama kota Bengkalis diambil dari kata ”Mengkal” yang berarti sedih atau sebak dan “Kalis” yang berarti tabah, sabar dan tahan ujian kata ini di ambil dari ungkapan raja kecil kepada pembantu dan pengikutnya sewaktu baginda sampai di Pulau Bengkalis ketika ingin merebut tahta Kerajaan Johor.Dengan ungkapan “Mengkal” rasanya hati ini karena tidak diakui sebagai sultan yang memerintah negeri, namun tidak mengapalah, kita masih ”Kalis” dalam menerima keadaan ini.

Sehingga hal itu menjadi buah bicara penduduk bahwa baginda sedang Mengkal tapi masih Kalis akhirnya ungkapan itu menjadi perkataan, “oh baginda sedang Mengkalis “. Dari kisah ini timbullah kata ”Mengkalis”, dan seiring perjalanan waktu berubah menjadi kata Bengkalis.
Sejarah Bengkalis bermula ketika Tuan Bujang alias Raja Kecil bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah mendarat di Bengkalis pada tahun 1722. Beliau disambut oleh Batin Senggoro dan beberapa batin pucuk suku “asli” Batin Merbau, Batin Selat Tebingtinggi dan lain-lain.
Berita Raja Kecil adalah pewaris Kerajaan Johor semakin menumbuhkan rasa hormat batin-batin dimaksud, sehingga mereka mengusulkan agar Raja Kecil membangunkan kerajaannya di Pulau Bengkalis.

Namun melalui musyawarah dengan Datuk Laksemana Bukit Batu, Datuk Pesisir, Datuk Tanah Datar, Datuk Lima Puluh dan Datuk Kampar dan para batin, disepakati bahwa pusat kerajaan didirikan di dekat Sabak Aur yakni di Sungai Buantan salah satu anak Sungai Siak. Pusat kerajaan itu didirikan pada tahun 1723.

Kerajaan inilah kemudian berkembang menjadi kerajaan Siak Sri Indra Pura, yang pernah menguasai kawasan yang luas di pesisir pantai Sumatera bagian utara dan tengah sampai ke perbatasan Aceh.
Catatan sejarah menunjukkan, bahwa Bengkalis pernah menjadi basis awal Kerajaan Siak. Di Bengkalis-lah wawasan mendirikan Kerajaan Siak dimufakati. Dan di Bengkalis pula bantuan moral dari rakyat dipadukan ketika beliau keluar dari Bintan.
Sejarah juga mencatat, setelah Belanda semakin berkuasa, maka Bengkalis pula yang menjadi tempat kedudukan Residen Pesisir Timur Pulau Sumatera berdasarkan perjanjian dengan Sultan Syarif Kasim Abdul Jalil Syarifudin menyerahkan pulau Bengkalis kepada Hindia Belanda tanggal 26 Juli 1823.

Kemudian, dalam sejarah yang sama, sebelum kedatangan Raja Kecil, Bengkalis sudah menunjukkan peran penting dalam arus lalu lintas niaga di Selat Melaka. Terutama sebagai persinggahan saudagar yang keluar masuk Sungai Siak.
Bahkan sejak di Tapung (Petapahan) ditemukan timah (1674) dan emas, peran Bengkalis dalam hubungan Melaka dengan kerajaan di pesisir timur Sumatra semakin besar, terutama di masa berdirinya Kerajaan Gasib.

Di masa pemerintahan Sultan Mansur Syah tahun (1459-1477) Gasib dikuasai oleh Melaka, Raja Gasib yang belum menganut agama Islam, di-Islam-kan dan diberi gelar Sultan “Ibrahim” dan dijadikan Wakil Sultan Melaka di Gasib. Sejak itu Kerajaan Gasib di bawah kepemimpinan Sultan Ibrahim (sebelum di-Islam-kan bernama Megat Kudu) menjadi kawasan pengembangan Islam .

KEDATANGAN ISLAM DI INDONESIA

Ada beberapa teori yang hingga kini masih sering dibahas , baik oleh sarjana-sarjana Barat maupun kalangan intelektual Islam sendiri. Setidaknya ada beberapa teori yang menjelaskan kedatangan Islam ke Timur Jauh termasuk ke Nusantara.


  1. Teori Pertama, diusung oleh Snouck Hurgronje yang mengatakan Islam masuk ke Indonesia dari wilayah-wilayah di anak benua India. Tempat-tempat seperti Gujarat, Bengali dan Malabar disebut sebagai asal masuknya Islam di Nusantara . Dalam L’arabie et les Indes Neerlandaises, Snouck mengatakan teori tersebut didasarkan pada pengamatan tidak terlihatnya peran dan nilai-nilai Arab yang ada dalam Islam pada masa-masa awal, yakni pada abad ke-12 atau 13. Snouck juga mengatakan, teorinya didukung dengan hubungan yang sudah terjalin lama antara wilayah Nusantara dengan daratan India.
  2. Teori kedua, adalah Teori Persia. Tanah Persia disebut-sebut sebagai tempat awal Islam datang di Nusantara. Teori ini berdasarkan kesamaan budaya yang dimiliki oleh beberapa kelompok masyarakat Islam dengan penduduk Persia. Misalnya saja tentang peringatan 10 Muharam yang dijadikan sebagai hari peringatan wafatnya Hasan dan Husein, cucu Rasulullah. Selain itu, di beberapa tempat di Sumatera Barat ada pula tradisi Tabut, yang berarti keranda, juga untuk memperingati Hasan dan Husein. Ada pula pendukung lain dari teori ini yakni beberapa serapan bahasa yang diyakini datang dari Iran. Misalnya jabar dari zabar, jer dari ze-er dan beberapa yang lainnya.

Teori ini menyakini Islam masuk ke wilayah Nusantara pada abad ke-13. Dan wilayah pertama yang dijamah adalah Samudera Pasai.
Kedua teori di atas mendatang kritikan yang cukup signifikan dari teori ketiga, yakni Teori Arabia. Dalam teori ini disebutkan, bahwa Islam yang masuk ke Indonesia datang langsung dari Makkah atau Madinah. Waktu kedatangannya pun bukan pada abad ke-12 atau 13, melainkan pada awal abad ke-7 . Artinya , menurut teori ini, Islam masuk ke Indonesia pada awal abad hijriah, bahkan pada masa khulafaur rasyidin memerintah. Islam sudah mulai ekspidesinya ke Nusantara ketika sahabat Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib memegang kendali sebagai amirul mukminin.


  • Kondisi Dan Situasi Politik Kerajaan-Kerajaan di Indonesia

Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh, daerah paling barat dari Kepulauan Nusantara, adalah yang pertama sekali menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam.

Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi., yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi'i. Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada jaman Kerajaan Singasari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab.

Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada pengislaman penduduk pribumi Nusantara secara besar-besaran. Baru pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan para pendatang Arab.

Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda. Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam mengatakan bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukkannya sebagai rahmatan lil'alamin.

Dengan masuk Islamnya penduduk pribumi Nusantara dan terbentuknya pemerintahan-pemerintahan Islam di berbagai daerah kepulauan ini, perdagangan dengan kaum Muslimin dari pusat dunia Islam menjadi semakin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke Nusantara juga semakin banyak. Yang terbesar diantaranya adalah berasal dari Hadramaut, Yaman. Dalam Tarikh Hadramaut, migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Hadramaut. Namun setelah bangsa-bangsa Eropa Nasrani berdatangan dan dengan rakusnya menguasai daerah-demi daerah di Nusantara, hubungan dengan pusat dunia Islam seakan terputus.

Terutama di abad ke 17 dan 18 Masehi. Penyebabnya, selain karena kaum Muslimin Nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan, juga karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis. Setiap kali para penjajah - terutama Belanda - menundukkan kerajaan Islam di Nusantara, mereka pasti menyodorkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka. Maka terputuslah hubungan ummat Islam Nusantara dengan ummat Islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratus-ratus tahun. Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan ummat Islam Nusantara dengan akarnya, juga terlihat dari kebijakan mereka yang mempersulit pembauran antara orang Arab dengan pribumi.

Semenjak awal datangnya bangsa Eropa pada akhir abad ke-15 Masehi ke kepulauan subur makmur ini, memang sudah terlihat sifat rakus mereka untuk menguasai. Apalagi mereka mendapati kenyataan bahwa penduduk kepulauan ini telah memeluk Islam, agama seteru mereka, sehingga semangat Perang Salib pun selalu dibawa-bawa setiap kali mereka menundukkan suatu daerah. Dalam memerangi Islam mereka bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan pribumi yang masih menganut Hindu / Budha. Satu contoh, untuk memutuskan jalur pelayaran kaum Muslimin, maka setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, Portugis menjalin kerjasama dengan Kerajaan Sunda Pajajaran untuk membangun sebuah pangkalan di Sunda Kelapa. Namun maksud Portugis ini gagal total setelah pasukan gabungan Islam dari sepanjang pesisir utara Pulau Jawa bahu membahu menggempur mereka pada tahun 1527 M.

Pertempuran besar yang bersejarah ini dipimpin oleh seorang putra Aceh berdarah Arab Gujarat, yaitu Fadhilah Khan Al-Pasai, yang lebih terkenal dengan gelarnya, Fathahillah. Sebelum menjadi orang penting di tiga kerajaan Islam Jawa, yakni Demak, Cirebon dan Banten, Fathahillah sempat berguru di Makkah. Bahkan ikut mempertahankan Makkah dari serbuan Turki Utsmani.
Kedatangan kaum kolonialis di satu sisi telah membangkitkan semangat jihad kaum muslimin Nusantara, namun di sisi lain membuat pendalaman akidah Islam tidak merata. Hanya kalangan pesantren (madrasah) saja yang mendalami keislaman, itupun biasanya terbatas pada mazhab Syafi'i. Sedangkan pada kaum Muslimin kebanyakan, terjadi percampuran akidah dengan tradisi pra Islam. Kalangan priyayi yang dekat dengan Belanda malah sudah terjangkiti gaya hidup Eropa.
Kondisi seperti ini setidaknya masih terjadi hingga sekarang. Terlepas dari hal ini, ulama-ulama Nusantara adalah orang-orang yang gigih menentang penjajahan. Meskipun banyak diantara mereka yang berasal dari kalangan tarekat, namun justru kalangan tarekat inilah yang sering bangkit melawan penjajah. Dan meski pada akhirnya setiap perlawanan ini berhasil ditumpas dengan taktik licik, namun sejarah telah mencatat jutaan syuhada Nusantara yang gugur pada berbagai pertempuran melawan Belanda.

Sejak perlawanan kerajaan-kerajaan Islam di abad 16 dan 17 seperti Malaka (Malaysia), Sulu (Filipina), Pasai, Banten, Sunda Kelapa, Makassar, Ternate, hingga perlawanan para ulama di abad 18 seperti Perang Cirebon (Bagus rangin), Perang Jawa (Diponegoro), Perang Padri (Imam Bonjol), dan Perang Aceh (Teuku Umar).


  • Munculnya Pemukiman-Pemukiman di Kota Pesisir

Sumber-sumber literatur Cina menyebutkan, menjelang seperempat abad ke-7, sudah berdiri perkampungan Arab Muslim di pesisir pantai Sumatera. Di perkampungan-perkampungan ini diberitakan, orang-orang Arab bermukim dan menikah dengan penduduk lokal dan membentuk komunitas-komunitas Muslim.

Kian tahun, kian bertambah duta-duta dari Timur Tengah yang datang ke wilayah Nusantara. Seperti pada masa Dinasti Umayyah, ada sebanyak 17 duta Muslim yang datang ke Cina. Pada Dinasti Abbasiyah dikirim 18 duta ke negeri Cina. Bahkan pada pertengahan abad ke-7 sudah berdiri beberapa perkampungan Muslim di Kanfu atau Kanton.

Tentu saja, tak hanya ke negeri Cina perjalanan dilakukan. Beberapa catatan menyebutkan duta-duta Muslim juga mengunjungi Zabaj atau Sribuza atau yang lebih kita kenal dengan Kerajaan Sriwijaya. Hal ini sangat bisa diterima karena zaman itu adalah masa-masa keemasan Kerajaan Sriwijaya. Tidak ada satu ekspedisi yang akan menuju ke Cina tanpa melawat terlebih dulu ke Sriwijaya.
Selain Sabaj atau Sribuza atau juga Sriwijaya disebut-sebut telah dijamah oleh dakwah Islam, daerah-daerah lain di Pulau Sumatera seperti Aceh dan Minangkabau menjadi lahan dakwah. Bahkan di Minangkabau ada tambo yang mengisahkan tentang alam Minangkabau yang tercipta dari Nur Muhammad. Ini adalah salah satu jejak Islam yang berakar sejak mula masuk ke Nusantara.
Di saat-saat itulah, Islam telah memainkan peran penting di ujung Pulau Sumatera. Kerajaan Samudera Pasai-Aceh menjadi kerajaan Islam pertama yang dikenal dalam sejarah.

Selain di Pulau Sumatera, dakwah Islam juga dilakukan dalam waktu yang bersamaan di Pulau Jawa. Prof. Hamka dalam Sejarah Umat Islam mengungkapkan, pada tahun 674 sampai 675 masehi duta dari orang-orang Ta Shih (Arab) untuk Cina yang tak lain adalah sahabat Rasulullah sendiri Muawiyah bin Abu Sofyan, diam-diam meneruskan perjalanan hingga ke Pulau Jawa. Muawiyah yang juga pendiri Daulat Umayyah ini menyamar sebagai pedagang dan menyelidiki kondisi tanah Jawa kala itu.

Ekspedisi ini mendatangi Kerajaan Kalingga dan melakukan pengamatan. Maka, bisa dibilang Islam merambah tanah Jawa pada abad awal perhitungan hijriah. Jika demikian, maka tak heran pula jika tanah Jawa menjadi kekuatan Islam yang cukup besar dengan Kerajaan Giri, Demak, Pajang, Mataram, bahkan hingga Banten dan Cirebon.
Proses dakwah yang panjang, yang salah satunya dilakukan oleh Wali Songo atau Sembilan Wali adalah rangkaian kerja sejak kegiatan observasi yang pernah dilakukan oleh sahabat Muawiyah bin Abu Sofyan.

Peranan Wali Songo dalam perjalanan Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa sangatlah tidak bisa dipisahkan. Jika boleh disebut, merekalah yang menyiapkan pondasi-pondasi yang kuat dimana akan dibangun pemerintahan Islam yang berbentuk kerajaan. Kerajaan Islam di tanah Jawa yang paling terkenal memang adalah Kerajaan Demak. Namun, keberadaan Giri tak bisa dilepaskan dari sejarah kekuasaan Islam tanah Jawa.

Sebelum Demak berdiri, Raden Paku yang berjuluk Sunan Giri atau yang nama aslinya Maulana Ainul Yaqin, telah membangun wilayah tersendiri di daerah Giri, Gresik, Jawa Timur. Wilayah ini dibangun menjadi sebuah kerajaan agama dan juga pusat pengkaderan dakwah. Dari wilayah Giri ini pula dihasilkan pendakwah-pendakwah yang kelah dikirim ke Nusatenggara dan wilayah Timur Indonesia lainnya.

  • Cara Islamisasi Di Indonesia

Perjalanan dakwah awal Islam di Nusantara tak terbatas hanya di Sumatera atau Jawa saja. Hampir seluruh sudut kepulauan Indonesia telah tersentuh oleh indahnya konsep rahmatan lil alamin yang dibawa oleh Islam.

Ada beberapa contoh islamisasi di kepulauan Nusantara, seperti :

1. Islamisasi Kalimantan


Para ulama awal yang berdakwah di Sumatera dan Jawa melahirkan kader-kader dakwah yang terus menerus mengalir. Islam masuk ke Kalimantan atau yang lebih dikenal dengan Borneo kala itu. Di pulau ini, ajaran Islam masuk dari dua pintu.

Jalur pertama yang membawa Islam masuk ke tanah Borneo adalah jalur Malaka yang dikenal sebagai Kerajaan Islam setelah Perlak dan Pasai. Jatuhnya Malaka ke tangan penjajah Portugis kian membuat dakwah semakin menyebar. Para mubaligh-mubaligh dan komunitas Islam kebanyakan mendiami pesisir Barat Kalimantan.

Jalur lain yang digunakan menyebarkan dakwah Islam adalah para mubaligh yang dikirim dari Tanah Jawa. Ekspedisi dakwah ke Kalimantan ini menemui puncaknya saat Kerajaan Demak berdiri. Demak mengirimkan banyak mubaligh ke negeri ini. Perjalanan dakwah pula yang akhirnya melahirkan Kerajaan Islam Banjar dengan ulama-ulamanya yang besar, salah satunya adalah Syekh Muhammad Arsyad al Banjari. (Baca: Empat Sekawan Ulama Besar)

2. Islamisasi Sulawesi


Ribuan pulau yang ada di Indonesia, sejak lama telah menjalin hubungan dari pulau ke pulau. Baik atas motivasi ekonomi maupun motivasi politik dan kepentingan kerajaan. Hubungan ini pula yang mengantar dakwah menembus dan merambah Celebes atau Sulawesi.
Menurut catatan company dagang Portugis yang datang pada tahun 1540 saat datang ke Sulawesi, di tanah ini sudah bisa ditemui pemukiman Muslim di beberapa daerah. Meski belum terlalu besar, namun jalan dakwah terus berlanjut hingga menyentuh raja-raja di Kerajaan Goa yang beribu negeri di Makassar.

Raja Goa pertama yang memeluk Islam adalah Sultan Alaidin al Awwal dan Perdana Menteri atau Wazir besarnya, Karaeng Matopa pada tahun 1603. Sebelumnya, dakwah Islam telah sampai pula pada ayahanda Sultan Alaidin yang bernama Tonigallo dari Sultan Ternate yang lebih dulu memeluk Islam. Namun Tonigallo khawatir jika ia memeluk Islam, ia merasa kerajaannya akan di bawah pengaruh kerajaan Ternate.

Beberapa ulama Kerajaan Goa di masa Sultan Alaidin begitu terkenal karena pemahaman dan aktivitas dakwah mereka. Mereka adalah Khatib Tunggal, Datuk ri Bandang, datuk Patimang dan Datuk ri Tiro. Dapat diketahui dan dilacak dari nama para ulama di atas, yang bergelar datuk-datuk adalah para ulama dan mubaligh asal Minangkabau yang menyebarkan Islam ke Makassar.
Pusat-pusat dakwah yang dibangun oleh Kerajaan Goa inilah yang melanjutkan perjalanan ke wilayah lain sampai ke Kerajaan Bugis, Wajo Sopeng, Sidenreng, Tanette, Luwu dan Paloppo.

3.  Islamisasi Maluku

Kepulauan Maluku yang terkenal kaya dengan hasil bumi yang melimpah membuat wilayah ini sejak zaman antik dikenal dan dikunjungi para pedagang seantero dunia. Karena status itu pula Islam lebih dulu mampir ke Maluku sebelum datang ke Makassar dan kepulauan-kepulauan lainnya.
Kerajaan Ternate adalah kerajaan terbesar di kepulauan ini. Islam masuk ke wilayah ini sejak tahun 1440. Sehingga, saat Portugis mengunjungi Ternate pada tahun 1512, raja ternate adalah seorang Muslim, yakni Bayang Ullah. Kerajaan lain yang juga menjadi representasi Islam di kepulauan ini adalah Kerajaan Tidore yang wilayah teritorialnya cukup luas meliputi sebagian wilayah Halmahera, pesisir Barat kepulauan Papua dan sebagian kepulauan Seram.
Ada juga Kerajaan Bacan. Raja Bacan pertama yang memeluk Islam adalah Raja Zainulabidin yang bersyahadat pada tahun 1521. Di tahun yang sama berdiri pula Kerajaan Jailolo yang juga dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Islam dalam pemerintahannya.

4.  Islamisasi Papua

Beberapa kerajaan di kepulauan Maluku yang wilayah teritorialnya sampai di pulau Papua menjadikan Islam masuk pula di pulau Cendrawasih ini. Banyak kepala-kepala suku di wilayah Waigeo, Misool dan beberapa daerah lain yang di bawah administrasi pemerintahan kerajaan Bacan. Pada periode ini pula, berkat dakwah yang dilakukan kerajaan Bacan, banyak kepala-kepala suku di Pulau Papua memeluk Islam. Namun, dibanding wilayah lain, perkembangan Islam di pulau hitam ini bisa dibilang tak terlalu besar.

5. Islamisasi Nusa Tenggara

Islam masuk ke wilayah Nusa Tenggara bisa dibilang sejak awal abad ke-16. Hubungan Sumbawa yang baik dengan Kerajaan Makassar membuat Islam turut berlayar pula ke Nusa Tenggara. Sampai kini jejak Islam bisa dilacak dengan meneliti makam seorang mubaligh asal Makassar yang terletak di kota Bima. Begitu juga dengan makam Sultan Bima yang pertama kali memeluk Islam. Bisa disebut, seluruh penduduk Bima adalah para Muslim sejak mula.

Selain Sumbawa, Islam juga masuk ke Lombok. Orang-orang Bugis datang ke Lombok dari Sumbawa dan mengajarkan Islam di sana. Hingga kini, beberapa kata di suku-suku Lombok banyak kesamaannya dengan bahasa Bugis.

Dengan data dan perjalanan Islam di atas, sesungguhnya bisa ditarik kesimpula, bahwa Indonesia adalah negeri Islam. Bahkan, lebih jauh lagi, jika dikaitkan dengan peran Islam di berbagai kerajaan tersebut di atas, Indonesia telah memiliki cikal bakal atau embrio untuk membangun dan menjadi sebuah negara Islam.

Sabtu, 05 Maret 2016

Sejarah Negara Republik Indonesia

 Nenek moyang bangsa Indonesia diduga kuat oleh para Arkeolog adalah ras Austronesia. Ras ini mendarat di Kepulauan Nusantara, dan memulai peradaban neolitik. Bukti arkeologi menunjukkan bahwa budaya neolitik dimulai sekitar 5000 tahun lalu di kepulauan Nusantara. Bersamaan dengan budaya baru ini bukti antropologi menunjukkan muncul juga manusia dengan ciri fisik Mongoloid. Populasi Mongoloid ini menyebar di kawasan Nusantara sekitar 5000 sampai 3000 tahun lalu dengan membawa bahasa Austronesia dan teknologi pertanian .

1. Sejarah Indonesia Kuno

Di Nusantara saat ini paling tidak terdapat 50 populasi etnik Mongoloid yang mendiaminya. Budaya dan bahasa mereka tergolong dalam satu keluarga atau filum bahasa, yaitu bahasa-bahasa Austronesia yang menunjukkan mereka berasal dari satu nenek moyang. Lalu dari manakah populasi Austronesia ini berasal dan daerah manakah pertama kalinya mereka huni di Nusantara ini? Sebuah pertanyaan yang belum terjawab oleh riset sejarah selama ini. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah pengkajian dan analisis yang komprehensif tentang bukti sejarah yang ada dan menelusuri hubungan historis suatu daerah dengan daerah lainnya. Metode yang digunakan adalah mengumpulkan cerita/tombo yang ada di masyarakat dan penelusuran fakta yang mendukung tombo tersebut.

Kerajaan tertua di Pulau Jawa berdasarkan bukti arkeologis adalah kerajaan Salakanegara dibangun abad ke-2 Masehi yang terletak di Pantai Teluk Lada, Pandeglang Banten. Diduga kuat mereka berimigrasi dari Sumatra. Sedangkan Kerajaan tertua di Sumatra adalah kerajaan Melayu Jambi (Chu-po), yaitu Koying (abad 2 M), Tupo (abad ke 3 M), dan Kuntala/Kantoli (abad ke 5 M). Menurut cerita/tombo adat Lubuk Jambi yang diwarisi dari leluhur mengatakan bahwa disinilah lubuk (asal) orang Jambi, oleh karena itu daerah ini bernama Lubuk Jambi. Dalam tombo juga disebutkan di daerah ini terdapat sebuah istana kerajaan Kandis yang sudah lama hilang. Istana itu dinamakan istana Dhamna, berada di puncak bukit yang dikelilingi oleh sungai yang jernih. Penelusuran peninggalan kerajaan ini telah dilakukan selama 7 bulan (September 2008-April 2009), dan telah menemukan lokasi, artefak, dan puing-puing yang diduga kuat sebagai peninggalan Kandis dengan ciri-ciri lokasi mirip dengan sketsa Plato (347 SM) tentang Atlantis. Namun penemuan ini perlu dilakukan penelitian arkeologis lebih lanjut.

2. Sejarah Asal usul Nama “ Indonesia”

Nama Indonesia berasal dari berbagai rangkaian sejarah yang puncaknya terjadi di pertengahan abad ke-19. Catatan masa lalu menyebut kepulauan di antara Indocina dan Australia dengan aneka nama, sementara kronik-kronik bangsa Tionghoa menyebut kawasan ini sebagai Nan-hai ("Kepulauan Laut Selatan"). Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara ("Kepulauan Tanah Seberang"), nama yang diturunkan dari kata dalam bahasa Sanskerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Walmiki menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Rahwana, sampai ke Suwarnadwipa ("Pulau Emas", diperkirakan Pulau Sumatera sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.
Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA, BI: "Jurnal Kepulauan Hindia dan Asia Timur"), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), seorang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.
Dalam JIAEA volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations ("Pada Karakteristik Terkemuka dari Bangsa-bangsa Papua, Australia dan Melayu-Polinesia"). Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia ("nesos" dalam bahasa Yunani berarti "pulau"). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis (diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dari Bahasa Inggris):
"... Penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu masing-masing akan menjadi "Orang Indunesia" atau "Orang Malayunesia"".
Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (sebutan Srilanka saat itu) dan Maldives (sebutan asing untuk Kepulauan Maladewa). Earl berpendapat juga bahwa bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini.
Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia. Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago ("Etnologi dari Kepulauan Hindia"). Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan yang sekarang dikenal sebagai Indonesia, sebab istilah Indian Archipelago ("Kepulauan Hindia") terlalu panjang dan membingungkan. Logan kemudian memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia. Dan itu membuktikan bahwa sebagian kalangan Eropa tetap meyakini bahwa penduduk di kepulauan ini adalah Indian, sebuah julukan yang dipertahankan karena sudah terlanjur akrab di Eropa.

Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan (diterjemahkan ke Bahasa Indonesia):
"Mr Earl menyarankan istilah etnografi "Indunesian", tetapi menolaknya dan mendukung "Malayunesian". Saya lebih suka istilah geografis murni "Indonesia", yang hanya sinonim yang lebih pendek untuk Pulau-pulau Hindia atau Kepulauan Hindia"
Ketika mengusulkan nama "Indonesia" agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama resmi. Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama "Indonesia" dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi.
Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel ("Indonesia atau Pulau-pulau di Kepulauan Melayu") sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara di kepulauan itu pada tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah "Indonesia" di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah "Indonesia" itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch-Indiƫ tahun 1918. Pada kenyataannya, Bastian mengambil istilah "Indonesia" itu dari tulisan-tulisan Logan.
Pribumi yang mula-mula menggunakan istilah "Indonesia" adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 ia mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Persbureau. Nama Indonesisch (pelafalan Belanda untuk "Indonesia") juga diperkenalkan sebagai pengganti Indisch ("Hindia") oleh Prof Cornelis van Vollenhoven (1917). Sejalan dengan itu, inlander ("pribumi") diganti dengan Indonesiƫr ("orang Indonesia")..

Kamis, 03 Maret 2016

Sejarah Kebudayaan indonesia bagian barat dan bagian tengah


  1. Kebudayaan daerah Bengkulu


Upacara adat tabot
Upacara adat, banyak dilakukan masyarakat di provinsi bengkulu sperti :
Upacara adat perkawinan, upacara adat mencukur rambut anak yang baru lahir, dll.
Salah satu upacara adat tadisional di bengkulu adalah upacara tabot yaitu suatu perayaan tradisional yang di laksanakan dari tanggal 1-10 muharamsetiap tahunnya, untuk memperingati gugurnya hasan dan husain, cucu nabi muhamad saw oleh keluarga yalid dari kaum syi’ah dalam peperangan di karbala pada tahun 61 h
Istilah tabot berasal dari kata arab yang secara harfiyah berarti ”kotak kayu”.Dalam al-Qur’an kata tabot dikenal sebagai sebuah peti yang berisikan kitab taurat.Jika pada awalnya upacara tobat di gunakan oleh orang-orang syi’ah untuk mengenang gugurnya husain bin ali bin abi thalib,maka sejak orang-orang Sipai lepas dari pengaruh ajaran Syi’ah,upacara ini dilakukan hanya kewajiban keluarga untuk yakni memenuhi wasiat leluhur mereka.Upaca ini juga di maksud sebagai wujud partisipasi orang-orang Sipai dalam pembinaan dan pengembangan budaya daerah (baca;Bengkulu) setempat.
Untuk melaksanakan upacara tabot ada beberapa perlatan yang harus di siapkan , dintaranya :
- Pembuatan tabot
- Kenduri dan sesaji
- Perlengkapan musik tabot
Alat-alat musik yang biasa digunakan dalam upacara tabot adalah dol dan tessa
- Tata laksana
a. Mengambik tanah ( mengambil tanah )
Tanah yang diambil harus melalui unsur-unsur magis oleh karna itu harus dimbil dari tempat keramat. Tanah yang diambil di simpan di gerga, dibentuk sperti boneka manusi dan di bungkus dengan kain kapan putih lalu di simpan di gerga.
b. Duduk penja
Penja adalah benda yang terbuat dari kuningan, perak atau tembaga yang berbentuk telapak tangan manusia lengkap dengan jari-jarinya.
c. Menjara
Menjara adalah berkunjung atau mendatangi kelompok lain untuk bertanding dol.
d. Meradai
Meradai adalah pengambilan dana oleh jola yang terdiri dari anak-anak berusia 10-12 th
e. Arak penja
Merupakan acara mengarak jari-jari yang di letakan di dalam tabot dengan di jalan-jalan utama di kota Bengkulu.
f. Arak seroban
Merupakan acara mengarak penja di tambah dengan serban putih di letakan pada tabot coki.
g. Gam
Gam adalah salah satu urutan acara dalam acara tabot. Gam adalah waktu yang tidak boleh ada kegiatan apapu. Gam juga dapat berarti tertutup / terhalang.
h. Arak gedang
Acara ini adalah acara yang di akukan setelah acara tabot. Setelah itu mereka berarak dari markas masing-masing menempuh rute yang di tentukan, kemudian kemudian bertemu shingga membentuk arak gedang.
i. Tabot tebuang
Ini adaa rangkaian aara terakhir dari bagian acara tabot, di mana para pengarak tabot tela berkumpul di lapangan dan tela di sandingkan sbagai malam tabot bersanding.


Setiap tindakan dalam upacara tbot selalu di awali dan di akhiri dengan do’a. Do’a tersebut diantaranya adalahsbagai berikut:
• Do’a kubur
• Do’a mohon selamat dan ampunan atas arwah orang-orang muslim di dunia.
• Bacaan tasbi
• Shalawat ulul ’azmi
• Shalawat wasilah, dll.

2. Kebudayaan daerah Bali


Di bali sangant banyak sekali upacara adat, sehingga dapat di katakan kehhidupan spiritual masyarakat Bali tidak dapat di pisahkan dari upacara ritual.
Upacara-upacara besar yang pada umumnyaiala sbagai berikut:
• Upacra penyambutan kelahiran
Di mulai dengan upacara maralek yaitu upacara pemotongan ari-ari yang di sebut kupas pingsit, dan di hubungkan dengan acara melepas hewan yang menerangkan upacara 12 hari setelah bayi berusia 3 bulan.
• Upacara turun tanah
Pada upacara ini agar anak mengenal watak dengan agama dan tradisi hidup, pada hari itu anak tersebut di beri nama dan di berkahi.
• Upacara potong gigi
Upacara ini berlangsung bagi anak perempuan yang telah menjelang dewasa, sbagai tradisi lama yang menggambarakan agar seorang perempuan tidak mirip seorang leak (yang selalu menonjolkan giginya) walaupun pelaksanaannya secara simbolik.
• Upacara pernikahan
Dalam ta penikhan orang balimempunyai batasan dengan kastanya, tapi sekarang banyak yang melakukan pernikahan dengan kasta yang berbeda.
Misalnya : seorang wanita berkasta sudra menikah dengan pria berkasta kesatria, maa jika orang menyapanya tidak menyebut namanya, melainkan harus dipanggil jero. Jika terjadi sebalikya maka wanita itu akan kehilangan gelar kesatrianya.
• Upacara kematian
Khusus bali,ada jenazah orang yang meninggal yang tidak di kuburkan di tanah, melainkan hanya di letakan di atas tanah pada tempat yang angap di sebagai kuburan.